Wednesday, May 13, 2020

WORK FROM HOME

Bekerja dari rumah, ah work from home atau WFH tiba-tiba jadi bahasa baru buat kami.

Ketika pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia di awal Maret 2020, setelah ada dua pasien yang terpapar virus ini dari pertemuannya di acara Valentine pertengahan Februari tahun ini, serta merta Pemerintah membuat batasan-batasan.

Di minggu ketiga bulan Maret-pun kantor kami mengikuti aturan work from home, dengan jadwal berkegiatan perorang di kantor dari 0 hingga hanya 3 hari, di tambah bulan April dan Mei ini ada saja libur tanggalan merah, sehingga jelas WFH jadi aktivitas sehari-hari.

Buat saya, ini adalah challenge baru karena bekerja dari rumah dengan koneksi internet yang tidak stabil di tambah kendala-kendala lain yang pasti lebih banyak kendala domestik di rumah, karena anak juga belajar dari rumah. Semua membutuhkan kekuatan khusus. Membelah diri dengan tetap fokus pada kerjaan serta menghandle segala sesuatu yang receh tapi memakan tenaga yang cukup besar.

Curhat berikutnya adalah jam makan siang yang berubah, karena harus menyiapkan sendiri, sedangkan bila di kantor, ada kantin yang tinggal sendok kemudian jadi berkat ketika suapan-suapan itu menjadi kenyang ketika sudah meluncur dalam perut.

Memasuki 3 minggu WFH, kemudian Jakarta memasuki PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) jilid 1 dari tanggal 10 April hingga 24 April, hal ini untuk pencegahan menularnya Covid-19. Sehingga banyak industri yang harus melakukan pembatasan-pembatasan. Kami pun makin dianjurkan untuk tetap berdiam dirumah, mengikuti anjuran Presiden Joko Widodo, Ibadah dari rumah, bekerja dari rumah dan belajar dari rumah.

Jangan berpikir kami mengalami kemunduran, karena target produksi tumpuk menumpuk, ditambah supplier mulai menjalani aturan PSBB, di tambah pada masa PSBB ini tidak ada goride, yang ada hanya gocar dan semua moda transportasi yang dikelola oleh pemerintah mulai mengurangi jam operasional. Tambah mantaplah kita bekerja dengan segala keterbatasan, untuk tetap eksis.

Dan ketika saya menulis ini,  PSBB Jakarta jilid 2 sedang berlangsung, dari tanggal 24 April - 22 Mei atau selama 28 hari. Namun secara bertahap antrian kendaraan bukan menyusut namun mengular ketika saya mengakhiri aktivitas. Bukan tidak mungkin ini terjadi karena usia produktif 45 tahun ke bawah sudah boleh beraktivitas seperti biasa seperti kata Bapak Doni Monardo  ketua gugus tugas percepatan penanganan Covid-19. 

Cuma satu harapan saya bahwa kita semua dapat beradaptasi dengan pandemi ini, bisa selalu sehat, jaga kesehatan dan mengawasi asupan makanan yang bergizi, di tambah bisa mengikuti semua kebijakan dari Pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19, dan makin paham bahwa bekerja dari rumah banyak suka dukanya, ga jauh beda dengan bekerja di kantor yang menghabiskan waktu berjam-jam diperjalanan.

Selama bertahun-tahun bekerja, baru tau beginilah work from home, bekerja dari rumah. Dasteran dan tanpa gincu namun tetap produktif.

Tuesday, January 14, 2020

SEKILAS MENGENAI GOPAY

Kalau membayangkan hari ini, sampai sekarang masih aja suka pelototin si ponsel android ini. Secara masih ada aja di tas ponsel yang cuma bisa halo-halo sama SMS. Tapi sumpah jarang banget dipakai buat SMS, abisnya provider yang aku pakai mahal bener tarif SMS-nya #curhat1.

Sekarang apa sih gunanya pakai ponsel android? Pastinya buat komunikasi, yang makin jarang buat cuap-cuap karena kok enakan chat. Itu sih aku ya, kalau kamu gimana? Ehhhh... tetapi sekarang masih sih telpon-an pake telpon WA (ish pelit) ☺☺, padahal kan seringan putus-putus ya suaranya. Tapi tetap aja hajar weee.

Nah isinya apa sih menu di ponsel android itu? Adalah beberapa game yang suka dipakai sama anak-anak di rumah. Aku mah ga paham mainnya  Trus isinya ya aplikasi chat macam WA sama Line, trus email yang macam-macam user-nya. Nah yang ga boleh kehapus ya gojek.

Aplikasi gojek ini yang andalah setiap waktu. Kalau laper tapi jam pulang masih lama, ujung-ujungnya gofood. Dari minuman yang kekinian sampai roti di Holland Bakery ya di gofood-in aja. Gitu juga kalau macet banget jalan pulang, sedangkan pasukkan di rumah sudah kehabisan lauk, gofood lagi pastinya.

Kalau untuk wira-wiri pasti cuma goride dan gocar aja. Praktis meskipun harganya naik melulu. Kapan-kapan saya demo deh. Kan naik gaji setahun sekali. Masa iya naik tarif sebulan sekali, mana promo juga jarang, membuat manyun saja ☺

Trus kalau mau kirim barang atau dokumen pakai gosent. Mau isi pulsa atau jualan pulsa biasanya aku pilih menu gopulsa, Harganya tetap lebih murah daripada beli di minimarket. Bayar tagihan PLN, Air, sampai BPJS aja sekarang cukup pilih menu gobill. Apabila perlu detergen karena udah mulai nyuci tapi kurang, menu gomart selalu jadi handalan.

Tapi di gojek itulah ada yang namanya gopay. Alat pembayaran digital. Saya menggunakan ini bukan buat gaya-gayaan loh. Tapi emang memudahkan hidup. Gofood, gosent, gobill, gomart, goride sampai transfer ya pakai gopay ini. Selain jadi cepat, juga biar para driver ga di beratin sama bayarin duluan maunya kita itu. Contoh beli roti Srikaya di Tet Fai, Tambora bawain ke Kemang sudah jauh bayarin dulu. Tau-tau kamu kelamaan nunggu main batalin aja. Kalau kamu pakai metode gopay, si driver ga pusing sama pesanan kamu yang jauh itu.

Nah gopay itu banyak banget loh pinternya. Di menunya aja ada macam-macam, seperti:

BAYAR
Ini menu dipakai kalau mau belanja di restoran atau mini market, cukup scan barcode, beres deh. Saldo kamu berkurang, dan kadang-kadang dapat cash back.

PAYLATER
Pakai aja dulu saldonya, nanti bayarnya akhir bulan. Semacam kredit-lah.

ISI SALDO
Kalau ini maksudnya buat isi di ATM, m-banking, dll dan bisa dari berbagai bank.
Untuk isi saldo gopay yang saya tau bisa dari beberapa sumber, yaitu :
1. Driver
Ini ga kena biaya. Biasa si abang driver sambil jalan suka nih tawarin kita isi saldo, jadi ini pengisian paling murah alias gratis.
2. Alfamart dan pegadaian
Biaya Rp. 1500. Kalau punya uang cash banyak, tapi mesin setor tunai ga nemu salah satu cara adalah masukkin lewat alfamart atau pegadaian. Dan ini real time alias langsung masuk.
3. Transfer ATM/m-banking
Biaya Rp. 1000.

MINTA
Menu minta adalah buat kita minta diisiin saldo gopay sama orang terdekat. Kalau beli sarapan bareng teman-teman, males banget harus bayar maka cukup transfer via MINTA. Ga kena biaya, langsung masuk dan bisa nominal kecil.

TARIK
Tarik maksudnya ketika kita punya saldo gopay banyak banget, bisa di transfer ke rekening yang telah kita daftarkan. Rekening maksudnya rekening bank. Sering banget pakai menu tarik karena sebagai penjual kue online, kok banyak yang komplain kalau harus transfer ke beda rekening kena biaya dari Rp. 4000 sd 6500, maka dari itu orang cukup isi saldo gopay kita saja dan hanya dikenakan tarif seribu. Kan jadi memudahkan orang. Dan ketika kita tarik uang ini memerlukan waktu hanya beberapa menit dengan biaya Rp. 2500. Lebih murah ya. Dan yang terupdate (20 Mei 2020, karena baru memperhatikan) sekarang tarik dana ke rekening itu Real Time, meski sudah sore atau malam. Langsung masuk loh sodara-sodara.

Dan macam-macam transaksi ini menambah gopoint kita. Mau baca gopoint, ini link-https://draft.blogger.com/blogger.g?blogID=2567244513765093113#editor/target=post;postID=8992618614569280148;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=15;src=postname pernah aku ulas juga tahun lalu. Meski dahulu point ga akan hangus, sekarang point lebih banyak hangusnya :)

Ah, segitu saja sekilas mengenai gopay. Dan ini bukan endorse ya, sekedar catatan. Semoga berguna buat yang perlu.

Madame Gie Eyebrow (Review)

Ini nih yang lagi happening!

Produk dari Madame Gie, katanya sih punya Gisella Anastasia mamanya si Gempi.

Secara pasti si Gisel tau banget ya apa yang diperlukan sama perempuan. Peralatan cantik, yang berkualitas, ga pakai mahal.

Dengan kata lain saya si makhluk yang doyan nyoba-nyoba make-up murah yang ga murahan sekali waktu pilih-pilih eyebrow merk Madame Gie di online. Saat itu saya pilih di blibli. Harganya beneran enak di kantong. Cukup sembilan ribu sajah.

Dan karena takjub (entah made in Indonesia atau karena murah, pokoknya bahagia :) ) belilah 2 warna, ya karena emang cuma ada 2 warna. Muahehe.... Warnanya 01 (Espresso Brown) dan 02 (Dark Granite Grey).
(kiri : 01 kanan : 02)

Sekarang lanjut ke pengalaman menggunakan kedua warna itu.

01 Espresso Brown, warnanya lebih coklat dari Merk Viva. Jadi kayanya cakep aja di wajah aku, muji-muji sebelum di protes. Secara warna ini pantes aja di kulit aku yang kuning.

02 Dark Granite Grey, ini jatuhnya kaya hitam ah. Maksudnya condong ke hitam bukan ke abu-abu. Aku pakai sih tapi 2 kali aja. 
(penampakkan ketika dipakai)


(kika : 02, 01)


Tapi agak keras, jadi untuk ngukirnya agak sulit, apalagi ga jago pakai alis. Mungkin masukkannya harus di buat lebih creamy biar ga susah pakainya. 

Kalau ditanya mau beli lagi, untuk yang 01 Espresso Brown mau, kalau untuk 02 Dark Granite Grey enggak

Diminta kasih nilai 1 sd 5 aku kasih nilai 4. Harus di improve biar kualitasnya lebih baik lagi, harga berubah masih bolehlah, karena emang harganya sangat minimalis.

Nah, kalau kamu pakai merk apa sih buat eye brow? Apa masih labil kaya aku. Ganti-ganti nyari yang lebih bagus setiap waktu. Sharing dong... Terima kasih


Monday, January 13, 2020

Kendaraan Umum Ke Heaven Funeral Home (Rumah Duka Atmajaya) Pluit

Apa Pluit?

Rumah duka Pluit. 

Rasanya denger harus ke sana itu jauh sekali. Apalagi kalau ditempuhnya dari Bekasi. 

Balik kepada yang berduka harus kita hibur, maka memutuskan untuk sekedar melawat, entah itu membantu yang berduka atau tidak intinya datang.

Trus karena hujan jadilah memilih naik kendaraan umum. Pakai transjakarta atau commuterline. Kalau commuterline turun saja di Stasiun Kota, lanjut naik gojek, dekat kok. sekitar 3 km.

Tapi kemarin saya memutuskan naik transjakarta. Mumpung hari Minggu ga pakai macet. Hanya memerlukan waktu sekitar 40 menit naik dari UKI dan turun di Halte Penjaringan. Sebagai informasi saya naik dari UKI sekitar pukul 8.40.

Saya menggunakan transjakarta Koridor 9A jurusan Pusat Grosir Cililitan (PGC) 2 - Pluit. Namun bisa juga naik Koridor 9 jurusan Pinang Ranti - Pluit. Koridor 9 atau 9A ini melewati Halte Cikoko stasiun Cawang, RS Harapan Kita, Slipi dan Podomoro (Mall Taman Anggrek, Central Park) serta Halte Grogol dan Halte Jembatan Besi. Sebenarnya lebih banyak lagi, cuma sekilas yaaa yang saya sebutkan.

Dari Halte Penjaringan ke Rumah Duka sekitar 300 sampai 400 km ya sekitar 8 menit sampai (jalan kaki). Jadi keluar Halte di kanan ada Mall Emporium maka kita diseberangnya alias ke kiri jalan. di gang pertama kita ke kiri. dan sekitar 200 meter posisi di kiri itulah Heaven Funeral Home d/h Atmajaya. Biasa disebut heaven lama.

Sedangkan untuk Heaven yang baru setelah menyebrang jalan kita tidak berbelok ke kiri namun masih jalan sekitar 200 meter, melewati Pabrik Sinar Antjol dan Heaven-nya ada di kanan jalan. Di Heaven yang baru ini untuk di kremasi.

Nah, catatan hari ini sepertinya dicukupkan, semoga saya ga lupa serta bingung kalau mau ke Rumah Duka Atmajaya.


Wednesday, November 27, 2019

Penggilingan Ke Jalan Kapten Tendean (Transjakarta)

Setelah di tulisan sebelumnya menulis sebuah catatan Bekasi Ke Jalan Bangka, Jakarta Selatan, dan kali ini masih mencatat yang sejenis.

Catatan ini sebuah harian perjalanan alternatif dari rumah ke kantor atau dari kantor ke rumah yang hanya itu-itu saja. Maklum jarang tugas luar. Kadang bosan kalau naik motor. Tapi lebih ngenes lagi kalau memilih naik mobil. Macetnya dari Bekasi ke Jakarta Selatan itu rasanya kaya seminggu ga mandi. Gatal. Belum lagi sekeliling daerah ini terkena peraturan plat gage (ganjil genap) pada pukul 07.00 - 10.00 dan 16.00 sd 21.00 dari Senin hingga Jumat, kecuali Sabtu dan Minggu atau hari libur nasional.


Jadi pilihan paling joss ya naik commuterline. Meski hingga saat ini prediksinya lebih sering meleset, namun lebih cerdas. Karena perjalanan menggunakan transjakarta estimasi lama perjalanan di pagi hari lebih dari 2 jam. Menggunakan commuterline dari Stasiun Klender Baru ke Stasiun Manggarai sekitar 30 menit. Kemudian transit di Stasiun Manggarai untuk lanjut ke Stasiun Cawang. Nah ini yang perlu diingat-ingat, stasiun cawang kalau kata transjakarta namanya halte Cikoko, atau Cawang Cikoko. Ini hanya 2 stasiun kalau dari Manggarai.


Setelah itu kita lanjutkan menggunakan transjakarta. 


Kalau dari Stasiun Cawang mau ke arah Blok M atau Tendean atau Bunderan Senayan semua itu pilih ke halte busway yang menyelusuri jalan kecil dari pinggir rel kereta, baru naik tangga ke atas.


Apabila langsung naik ke atas, yang ada kita menuju ke halte busway yang menuju ke arah BNN atau Kampung Melayu atau Taman Mini. Hal ini karena JPO disini ga menyambung, terhalang oleh jalan tol.


Lanjut menyeberang masuk halte busway, pilihan ke Jalan Kapten Tendean bisa Transjakarta yang langsung ke Puri Beta untuk turun di halte busway Rawa Barat, atau Transjakarta yang mana saja dilewati lalu kemudian turun di Pancoran Barat, untuk transit menuju Jalan Kapten Tendean. Dari Pancoran Barat ini bisa pilih trayek 9H, yang tujuan Blok M atau pilih Ciledug melalui pancoran via tendean, maka itu akan melewati halte Tendean lalu Rawa Barat.


Sebagai informasi Rawa Barat adalah sekitaran Gereja Santa Blok A atau Tarakanita atau Kampus Inter Study. Dan posisinya agak-agak keren haltenya, karena ini ada di atas jalan raya. Dan menggunakan jalur busway yang hits CILEDUG. Jalan busway ini di khususkan peruntukkannya hanya untuk busway dengan posisi seperti jalan layang.


Sekarang bicara mengenai estimasi waktu. Kalau lancar dari Halte Cawang Cikoko ke Halte Rawa Barat a.k.a Jl Kapten Tendean sekitar 20 menit. Namun apabila macet sediakan waktu sekitar 60 menit. 


Nah sampai disini dulu catatannya, untuk link kalau mau ke Jl Bangka melalui Kalibata silakan disimak disini 
https://draft.blogger.com/blogger.g?rinli=1&pli=1&blogID=2567244513765093113#editor/target=post;postID=7352762120297089568;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=5;src=postname


Ayo naik bus masih jadi magic word buat saya.


Have a nice day !


Tuesday, November 12, 2019

LRT Veldrome Ke Pegangsaan

Hai... Hai...



Lama juga saya ga menulis sebuah catatan di blog ini. Kenapa ya? Ah paling alasannya sibuk? Iya ya, 24 jam-nya sepertinya kurang. Jadi berasa kurang tidur, padahal sekarang hari Sabtu libur alias ga ngantor. Makanya hari ini memaksakan buat catatan meski secuil rasa malas menghampiri. Karena buat saya blog itu tidak berbeda dengan buku diary, yang pada suatu hari nanti pasti akan dibuka kalau perlu data ini dan itu.



Catatan hari ini tentang kendaraan umum Jakarta saja. Yang lagi hits LRT. Maksud LRT adalah Lintas Rel Terpadu yang jaraknya ga begitu jauh, Veldrome ke Pegangsaan Dua. Padahal cuma lurus saja bila naik motor atau mobil pribadi, namun memerlukan waktu yang cukup lama, karena macetnya lumayan, terutama di jam sibuk seperti jam kantor datang dan pulang atau jam pulang - pergi anak sekolah. Karena daerah Pulomas dan Kelapa Gading banyak tempat tinggal dan banyak sekolah. Selain itu bisa digunakan sebagai sarana untuk ke wilayah perkantoran seperti Kelapa Gading, atau Sunter serta daerah industri Pulogadung.



Oleh karena yang mau ditulis mengenai LRT maka hal yang mesti diperhatikan apabila akan naik LRT yaitu jangan lupa bawa E-money. Apa itu e-money? Sedikit definisinya yang saya kutip dari Simulasi Kredit.com : merupakan salah satu bentuk uang digital, di mana e-money berfungsi untuk memindahkan data saldo uang yang terkandung pada e-money kita ke komputer atau sistem informasi penjualan, sehingga barang yang kita inginkan terbeli tanpa mengeluarkan tambahan uang cash.



E-money yang digunakan pada perjalanan LRT adalah Flazz dari bank BCA, Tap Cash dari Bank BNI, jakcard dari Bank DKI, Brizzi dari Bank BRI dan E-money dari Bank Mandiri.



Biasanya para pengguna kendaraan umum seperti commuterline atau penumpang busway sudah tidak asing dengan beberapa kartu e-money tersebut. By the way yang suka nyetir juga pasti udah biasa ya sama e-money, kan buat bayar tol sama parkir sekarang pakai makhluk ini.



Jadi kemarin ini saya cuma berdua sama si Tessa buat mencoba LRT. Kami mencoba dari Velodrome, sebelumnya kami naik busway 11A, jurusan Pulogebang - Rawamangun, turun di depan Arion, cukup naik JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) yang ke arah veldrome. Dan karena sudah di atas magrib, jadi lampu-lampu sudah menyala. Dan itu cakep. Lampunya warna-warni. 





Sekitar 5 menit sudah ada di stasiun LRT. Ya, LRT menggunakan nama stasiun, bukan halte. Dan hanya ada 6 stasiun. Yaitu Velodrome, Equestrian, Pulomas, Boulevard Selatan, Boulevard Utara dan Pegangsaan Dua.




Semuanya mudah dijalankan untuk tapping gate-nya, selain petugas cukup banyak, panduan tulisan juga memudahkan.



Malam itu kami menunggu LRT untuk jalan sekitar 3 menit, kemudian jalan menuju ke arah Pulomas. Untuk sampai ke depan Mall Kelapa Gading, kami turun di stasiun Boulevard Utara memerlukan waktu sekitar 7 menit.



Jadi sekarang ke Mall Kelapa Gading ga pakai lama, karena selain LRT nyaman, mudah dan cepat. Sepanjang pulang dan pergi saya jadi ga dapat duduk, karena penumpangnya ternyata cukup banyak. Dan memang LRT hanya menggunakan 2 rangkaian saja setiap perjalanannya.





Kesimpulannya di Jakarta tambah banyak pilihan kendaraan umum yang bisa jadi referensi karena secara fasilitas sangat baik.



Oh iya di Stasiun Velodrome ada Toilet yang benar-benar bersih, begitu juga di Boulevard Utara, toiletnya secara umum sangat nyaman. Karena hanya naik dan turun di dua stasiun itu.



Jam operasionalnya dari pukul 05.50 sampai 22.40, jadi yang pulang malam seperti karyawan Mall Kelapa Gading, masih bisa menggunakan LRT.




Untuk tiketnya, sepertinya karena masih percobaan jadi hanya terpotong Rp. 2.000,-. Sangat murah untuk fasilitas senyaman ini. Semoga kedepannya memang tarifnya maksimal sama dengan Transjakarta. ehmmm....



Oke segini dulu catatannya, jangan lupa jalan-jalan naik LRT karena sekarang Jakarta juga punya transportasi yang mumpuni.





Saturday, July 13, 2019

Jak Lingko 39 (Kalimalang - Duren Sawit)


Haloo Jakarta....


JAKARTA TIMUR (Khusus-nya)


Berita baik yang harus banget di share!


Ada kendaraan umum yang bukan baru, tapi trayek baru. Jak Lingko, warna merah yang sekilas mirip KWK (Koperasi Wahana Kalpika). Mungkin yang terbiasa dari Rawamangun ke Stasiun Cakung atau Rawamangun ke Kalimalang lewat Jl I Gusti Ngurah Rai tau dengan KWK 25 atau KWK 26. Untuk Jak Lingko 39 ini bentuknya seperti itu.


                                                            sumber gambar : google

Mengikuti transjakarta dari ketertibannya sampai cara bayarnya.


Jak Lingko untuk No 39 ini mempunyai trayek Kalimalang - Duren Sawit. Dan memang untuk trayek ini belum ada angkutan kota yang sama persis jurusannya. Jadi agak linglung juga. Duren Sawit-nya tidak sampai melewati Jl Dermaga, karena setelah Jl. Buaran Raya akan belok ke kiri di jalan menuju HKBP duren sawit. 


Untuk lintasannya melewati SMK 48 dan carefour buaran, nanti masuk ke Jl I Gusti Ngurah Rai dan melewati Stasiun Buaran yang lama, kemudian Stasiun Klender Baru putar balik untuk masuk ke arah Rumah Sakit Islam Pondok Kopi kemudian akan melewati Giant Pondok Kopi untuk melewati Jalan Robusta dan terus ke Pemakaman Pondok Kelapa, dan berbelok ke kanan untuk mengakhiri perjalanan di Jl H. Naman.


Dan untuk arah sebaliknya sama. Jadi tidak perlu khawatir nyasar. Maksudnya kalau nyasar ikut balik lagi saja :) Kan gratis alias  Rp. 0. Namun wajib menggunakan kartu prepaid. Karena menggunakan mesin EDC seperti di stasiun atau di halte busway. Jadi perlu menggunakan kartu hanya saja tidak terpotong. Kartu prepaid yang digunakan adalah Tap Cash dari BNI. 


Untuk harga kartu seperti biasa Rp. 30.000 sudah ada saldo Rp. 10.000. Jadi saldonya bisa digunakan untuk naik commuterline atau untuk naik transjakarta.





Tunggu apalagi, kemana-mana di Jakarta naik angkutan umum saja, selain mudah, banyak armadanya dan hemat juga mencegah stres. Karena Jak Lingko ini normalnya lewat setiap 2 menit, tidak pakai kebut-kebutan. Pengemudinya rapi dengan identitas yang di gantung di spion depan. Kecepatannya saja maksimal 40 km/jam.