Menghadapi Anak Yang Kalah



Moment 17 Agustus penuh dengan berbagai acara yang ga pernah jauh dari lomba. Dari makan kerupuk sampai menyanyi lagu wajib. Nah buat mommy-mommy, sibuk juga ga kaya aku yang ngaturin jadwal nya si anak?

Pagi-pagi harus sekolah, meski cuma buat Upacara Bendera yang memakan waktu satu jam lebih, lanjut ada lomba di sekolah tapi di lingkungan rumah juga ada. Nah berhubung tahun 2017 tanggal 17 Agustus nya jatuhnya di hari Kamis, Jumat ada lagi acara lomba di sekolah. Sabtu di Gereja, Minggu di lingkungan rumah dan Gereja.

Anak kelelahan tapi seneng, banyak hadiah dari Juara 1, harapan hingga kekalahan yang di dapat. Dan sebagai ibu hanya bisa senyum-senyum dengar cerita seru gimana biar bisa menang ini. Kenapa dia kalah di lomba itu. Semangatin aja selalu. Always only games ya neng ☺☺☺

Kadang sih wajah kecewa ada si celah mimik mukanya. Tapi biarlah, kekalahan ini sebagai wujud kamu sedang berkompetisi.

Ketika si cantik bercerita bahwa ada seorang temannya yang menangis ketika kalah, dia membagikan hadiahnya. “Aku ga tau apa isi kado itu mam, tapi aku kasih aja ke Melia. Abis dia nangis.”
“Kenapa nangis?” tanyaku sepintas.
“Bundanya Melia, ga mau Melia kalah.” Jawab si cantik.
“Namanya perlombaan pasti ada yang menang dan ada yang kalah dong Beib.” Tangkas aku menanggapi jawabannya.
“Ga boleh kalah, nanti bunda sama ayahnya malu.”
Whaaat? Dari mana ceritanya cuma lomba 17-an anak harus menang terus. Ini adalah hidup, ga bisa semua sesuai kehendak kita. Dan masa iya lomba bakiak kalah ayah sama bundanya malu. Hello, ini anaknya yang aneh ga bisa mencerna petuah orang tuanya atau sang bunda yang terlalu mau sang anak perfect?

Lain hari si cantik cerita lagi “Banu di jewer mamanya waktu kalah lomba masuk in pensil ke botol. Kayanya sakit deh kupingnya, karena Banu meringis.”

“Mam, kasihan deh Wati, ga berani pulang karena ga bawa kado.”

Beberapa percakapan itu membuat aku heran, meski manalah ada ibu yang ga mau anaknya menang, jadi juara, tapi masa iya hanya gara-gara lomba anak harus selalu menjadi pemenangnya.

Ga begitu juga ya mommy, menang atau kalah itu hanya kompetisi. Dalam hidup yang sesungguhnya saja belum tentu kita menjadi pemenangnya. Kita juga pasti pernah kalah.

Apalagi yang hanya lomba anak-anak, toh hadiahnya paling kotak makan atau botol air, yang di rumah pasti ada banyak.    Masa iya hanya karena hal itu si anak takut pulang. Masa karena hal tersebut anak seakan di suruh pikul beban berat. Hanya lomba yang games loh mommy.

Masa iya anak harus selalu jadi pemenang, masa anak tak pernah merasa kalah. Kalah itu adalah kemenangan yang tertunda. Kalah itu belajar lebih baik untuk kemudian hari.
Bukan untuk disesali apalagi dihukum. Jewer itu hukuman loh mom.

Menghadapi kekalahan anak, meski hanya game, ada baiknya sebagai orang tua kita lebih bijaksana, memberi semangat atau bila memang bisa mengulang pertandingan tersebut agar sang buah hati dapat memperbaiki kesalahannya.

Jangan terlalu menekan, karena bila salah caranya hanya akan membuat anak-anak menjadi depresi. Anak itu perlu contoh. Dan anak perlu tempat untuk berbagi ketika dia terluka karena kekalahannya.

Ingat jadi orang tua mencontohkan dan juga mendoakan agar si anak bisa berhasil, bukan untuk ditekan.

Yang sepakat cung. Yang enggak tinggalkan alasannya mengapa tak setuju. Salam cinta buat seluruh anak -anak.
😁😁😁



Komentar